Ahmad Basri: | Selasa.9.12.2015
Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan (K3PP)
Menjadi pemimpin atau pejabat publik adalah sebuah “impian” bagi sebagian orang. Dalam dunia politik hal itu biasa. Kekuasaan jabatan memang harus diraih, “direbut” bukan turun dari langit.
Pejabat publik apakah itu Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri atau Presiden merupakan refleksi dari sebuah tanggung jawab. Mereka dipilih karena mandat rakyat.
Pemimpin diuji bukan dalam kondisi aman, tenang, tentrem, namun dalam kondisi darurat bencana. Di situlah kepemimpinan seseorang terlihat jelas sikap dan tindakannya.
Apakah sanggup menangani atau tidak, atau sekadar berpura-pura ikut prihatin atas sebuah musibah. Atau bahkan melepaskan tanggung jawab.
Musibah bencana alam yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh setidaknya menjadi “kacamata” merefleksikan sosok seorang pemimpin di tengah bencana.
Ada pejabat publik yang pura-pura “memikul” beras di tengah bencana sebagai tanda ikut prihatin. Agar terlihat seperti Umar bin Khattab, seorang khalifah sahabat Rasul.
Ada juga yang malah pergi umroh ke Tanah Suci, meninggalkan rakyatnya yang sedang menderita, menangis memohon bantuan. Mungkin dikira dengan pergi umroh Tuhan akan “tersenyum” padahal bisa jadi justru murka.
Bencana alam yang ditandai oleh tanah longsor, banjir bandang, yang terjadi belakangan ini telah mengajarkan kepada kita semua bahwa masih saja ada pejabat publik yang kehilangan “sense of crisis”, kepekaan sosial.
Menariknya, semua pejabat publik di daerah kini terlihat turun kelangan berlagak “ sok sibuk” mengantisipasi terjadi bencana alam. Mereka mengajak masyarakat untuk waspada terhadap terjadinya bencana alam.
Padahal kita ketahui salah satu penyebab bencana alam, tanah longsor, banjir bandang karena hutan telah musnah. Hutan telah rata dengan tanah.
Musnahnya hutan karena keserakahan tangan-tangan pejabat publik atas kebijakan yang ugal-ugalan. Demi nafsu kepentingan pribadi.
Inilah model pemimpin kita hari ini yang telah merusak ekosistem kehidupan masa depan anak cucu kita. Ini bukan Indonesia Emas tapi Indonesia Cemas !
Editor : Aziz











