Kepemimpinan Di Tengah Badai Bencana Alam

- Penulis

Selasa, 9 Desember 2025 - 14:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahmad Basri: | Selasa.9.12.2015

Ketua Kajian Kritis Kebijakan Publik Pembangunan (K3PP)

Menjadi pemimpin atau pejabat publik adalah sebuah “impian” bagi sebagian orang. Dalam dunia politik hal itu biasa. Kekuasaan jabatan memang harus diraih, “direbut” bukan turun dari langit.

ADVERTISEMENT

Donasi

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pejabat publik apakah itu Bupati, Walikota, Gubernur, Menteri atau Presiden merupakan refleksi dari sebuah tanggung jawab. Mereka dipilih karena mandat rakyat.

Pemimpin diuji bukan dalam kondisi aman, tenang, tentrem, namun dalam kondisi darurat bencana. Di situlah kepemimpinan seseorang terlihat jelas sikap dan tindakannya.

Apakah sanggup menangani atau tidak, atau sekadar berpura-pura ikut prihatin atas sebuah musibah. Atau bahkan melepaskan tanggung jawab.

Baca Juga :  "Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi"

Musibah bencana alam yang terjadi di Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh setidaknya menjadi “kacamata” merefleksikan sosok seorang pemimpin di tengah bencana.

Ada pejabat publik yang pura-pura “memikul” beras di tengah bencana sebagai tanda ikut prihatin. Agar terlihat seperti Umar bin Khattab, seorang khalifah sahabat Rasul.

Ada juga yang malah pergi umroh ke Tanah Suci, meninggalkan rakyatnya yang sedang menderita, menangis memohon bantuan. Mungkin dikira dengan pergi umroh Tuhan akan “tersenyum” padahal bisa jadi justru murka.

Bencana alam yang ditandai oleh tanah longsor, banjir bandang, yang terjadi belakangan ini telah mengajarkan kepada kita semua bahwa masih saja ada pejabat publik yang kehilangan “sense of crisis”, kepekaan sosial.

Baca Juga :  "2026"Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Menariknya, semua pejabat publik di daerah kini terlihat turun kelangan berlagak “ sok sibuk” mengantisipasi terjadi bencana alam. Mereka mengajak masyarakat untuk waspada terhadap terjadinya bencana alam.

Padahal kita ketahui salah satu penyebab bencana alam, tanah longsor, banjir bandang karena hutan telah musnah. Hutan telah rata dengan tanah.

Musnahnya hutan karena keserakahan tangan-tangan pejabat publik atas kebijakan yang ugal-ugalan. Demi nafsu kepentingan pribadi.

Inilah model pemimpin kita hari ini yang telah merusak ekosistem kehidupan masa depan anak cucu kita. Ini bukan Indonesia Emas tapi Indonesia Cemas !

 

Editor : Aziz

Follow WhatsApp Channel titiknarasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MILAD SMK MUHAMMADIYAH TUMIJAJAR KE-30 TAHUN: MAJU, BERPRESTASI, DAN MENDUNIA
“Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi”
“2026”Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka
Berita ini 33 kali dibaca
Menjadi pemimpin atau pejabat publik adalah sebuah “impian" bagi sebagian orang. Dalam dunia politik hal itu biasa. Kekuasaan jabatan memang harus diraih, “direbut" bukan turun dari langit.

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 22:57 WIB

MILAD SMK MUHAMMADIYAH TUMIJAJAR KE-30 TAHUN: MAJU, BERPRESTASI, DAN MENDUNIA

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:21 WIB

“Pemotongan Gaji Guru ASN/PPPK: Tak Boleh Main-main dengan Hak yang Dijamin Konstitusi”

Kamis, 1 Januari 2026 - 07:15 WIB

“2026”Ketika Waktu Tidak Lagi Sekadar Angka

Selasa, 9 Desember 2025 - 14:01 WIB

Kepemimpinan Di Tengah Badai Bencana Alam

Berita Terbaru